Hari ini pelukan buya (papa) menjadi lecutan kebahagian yg luar biasa.
Beliau menunggu hampir 2 jam dipinggir kelas, menjemputku kelas sore
hari ini. Aku tidak pernah tau apa yg membuatnya bahagia, yg aku tau
beliau lah yg selalu membela anak perempuannya dan berdiri paling depan. Memelukku lebih lama dan hangat sekali
rasanya. Ada dingin yang mencari, ada cinta yang terbahasakan dalam
sebuah restu. Buya memang begitu. Dan aku mencintai beliau yang seperti
itu. "itu anakku pak", beliau menunjuk dari kejauhan. Dan bahagianya
buya (papa) menjemput anaknya pulang mengajar seperti pertama kali
mendengar anak perempuannya menjadi juara umum dibangku sekolah dasar.
Juni ... masih sama dengan bulan-bulan yang lalu, tidak banyak yang berubah, masih sering panas-lalu hujan tidak menentu. namun terasa berbeda karena masih merasa sendiri pada ramadhan tahun ini. setelah keputusan pulang kesini kembali kemarin, langit-langit kamar menjadi satu-satunya cahaya pengantar kelelahan. banyak sekali perubahan rencana, serta angan dan capaiannya. sudah lama sekali rasanya buku-buku tidak lagi pernah dibaca hingga berdebu, hingga tulisan-tulisan acak yang hanya akan menjadi draft didalam note telepon genggam saja. atau lemari baju yang belum sempat terapikan, kertas-kertas print out yang menunggu untuk disapa lalu dibututkan saja. keputusan kembali menjadi bumerang untuk diri sendiri, terkadang ada rasa sesal, dan ingin meninggalkan semuanya, dan apa-apa tentang pencapaian yang telah dibangun hingga hari ini. namun bukankah itu tidak merupakan wujud dari rasa syukur? atau apakah keadaan buruk dari hari ini mer...
Komentar
Posting Komentar