Hari ini pelukan buya (papa) menjadi lecutan kebahagian yg luar biasa.
Beliau menunggu hampir 2 jam dipinggir kelas, menjemputku kelas sore
hari ini. Aku tidak pernah tau apa yg membuatnya bahagia, yg aku tau
beliau lah yg selalu membela anak perempuannya dan berdiri paling depan. Memelukku lebih lama dan hangat sekali
rasanya. Ada dingin yang mencari, ada cinta yang terbahasakan dalam
sebuah restu. Buya memang begitu. Dan aku mencintai beliau yang seperti
itu. "itu anakku pak", beliau menunjuk dari kejauhan. Dan bahagianya
buya (papa) menjemput anaknya pulang mengajar seperti pertama kali
mendengar anak perempuannya menjadi juara umum dibangku sekolah dasar.
Namanya mukharaja shidqi. Tempat berpulangnya kepulangan yg sebenarnya. Nabi ibrahim dahulu sering mengatakan "mendekatlah kalian kemari" ke bakkah. Dan berkah doa nabi ibrahim lah tanah yang tandus dahulu skrg berubah menjadi ladang makanan seluruh dunia. “ Ya Allah sungguh aku telah menempatkan sebagian keturunanku di sebuah lembah tandus, dekat rumah-Mu, agar mereka mendirikan shalat. Jadikanlah sebagian manusia cenderung kepada mereka dan limpahkanlah rezeki berupa buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. Disini tidak ada yg berbeda, semua terasa dekat dekat sekali, menjadi keluarga. Hampir setiap hari selalu dipeluk muslimah, entah dalam hal kecil saja untuk merapatkan shaf di mesjidil haram, bahagia sekali diberikan shaf didepan kabah lalu dicium oleh muslimah prancis. Diajak berbuka puasa bersama oleh para muslimah turkey di mesjid nabawi yang mereka sebut arabic coffea. Bahkan pada saat sai dan kelelahan diberi makanan kacang taluha. Berulang kali ...
Komentar
Posting Komentar